Menu

USD/JPY Naik Menembus Level 114 Berkat Apiknya Data Ekonomi AS

N Sabila

USD/JPY menguat akibat kenaikan data PMI Non Manufaktur AS, yang mendongkrak yield obligasi US Treasury ke level tertinggi sejak pertengahan tahun 2011.

Seputarforex.com - Kemarin malam, Indeks ISM Non Manufaktur AS naik ke level 61.6 pada bulan September, mematahkan estimasi penurunan ke 58.0 dari 58.5. Data ini menunjukkan rekor pertumbuhan luar biasa yang terjadi di sektor jasa AS, dan menjadi yang tertinggi sejak bulan Agustus 1997. Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan masih berpandangan positif terhadap kondisi bisnis dan masa depan perekonomian AS.

 

"Indeks PMI (ISM) non manufaktur AS melonjak sangat signifikan ke atas rata-rata dan konsisten dengan kenaikan risiko pertumbuhan," kata Kevin Cummins, ekonom senior di NatWest Markets. "Dalam jangka pendek, data ini menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja masih sangat kuat."

 

Yield Obligasi US Treasury Melonjak

Rilis data tersebut disusul dengan kenaikan yield obligasi 10-tahunan pemerintah AS sebesar 12 basis poin ke level 3.18 persen. Penguatan ini merupakan kenaikan harian tertinggi sejak Pemilu Presiden AS tahun 2016. Akibatnya, saham-saham finansial AS, termasuk S&P 500, ikut melonjak.

"Sebuah dinamika sederhana sedang memainkan perannya dalam perekonomian global saat ini. (Ekonomi) AS sedang booming, sementara negara-negara lain justru melambat atau bahkan mengalami stagnasi," kata ekonom Kevin Logan dari HSBC.

 

USD/JPY Naik, Bisa Tembus 115

Dolar AS pun menguat terutama terhadap Yen. USD/JPY naik menyentuh level tinggi 11 bulan di level 114.546 kemarin malam. Saat berita ini ditulis pada hari Kamis (04/Okt) siang, USD/JPY diperdagangkan flat di angka 114.348.

 

"Dolar AS menguat bersama dengan kenaikan yield obligasi US Treasury jangka panjang, menjelang rilis data Non Farm Payroll AS besok. Ada kemungkinan Dolar akan terus menguat menembus 115 yen," kata Masafumi Yamamoto dari Mizuho Securities.

"Pemerintahan Trump mungkin akan mengalihkan perhatiannya kepada Dolar AS. Namun, perlambatan (reli) Dolar (dari faktor ini) sepertinya akan sementara saja, karena pemerintahan Trump masih akan mengizinkan mata uangnya untuk menguat di tengah ekonomi saat ini," tutup Yamamoto.


Berita Forex Lainnya

USD
EUR
CHF
CAD
GBP
JPY
CNY
AUD





KONTAK KAMI PASANG IKLAN BROKER BELAJAR ANALISA ARTIKEL TERM OF USE