Advertisement

iklan

The Fed Semakin Hawkish, Emas Koreksi Bearish

Penulis

+ -

Minggu lalu, harga emas ditutup melemah akibat pernyataan The Fed yang semakin hawkish. Minggu ini, data Core PCE Price Index dan GDP AS akan menjadi katalis.

iklan

iklan

Analisa mingguan XAU/USD berikut ini dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Gagal menembus level psikologis USD2000 per troy ounce, harga emas ditutup pada level 1931.69 minggu lalu, melemah 2.1% dibandingkan minggu sebelumnya. Depresiasi harga logam mulia terutama disebabkan oleh melonjaknya Indeks Dolar dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS akibat pernyataan The Fed yang semakin hawkish. Indeks USD menyentuh level 101 (tertinggi sejak Maret 2020), sementara yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke level 2.90% (tertinggi sejak Desember 2018).

Berbicara pada pertemuan IMF minggu lalu, ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa inflasi jauh lebih tinggi sekarang. Powell pun mengisyaratkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin atau 0.5% pada FOMC meeting 4-5 Mei mendatang.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tersebut lebih kuat daripada kekhawatiran akan perang Rusia-Ukraina. Kondisi ini membuat harga emas terus melemah. Analis memperkirakan emas masih akan mengalami koreksi dalam jangka pendek.

Data penting dari AS minggu ini adalah Core PCE Price Index dan Advance GDP kuartal pertama 2022. Survei yang dihimpun Kitco.com menunjukkan sentimen pasar terhadap emas masih bullish. Sekitar 39% pemain Wall Street memperkirakan pergerakan harga emas minggu ini akan bullish, 33% bearish, dan 28% lainnya netral atau sideways. Sementara itu, 56% pemain Main Street memperkirakan emas bullish, 26% bearish, dan 18% lainnya netral.

 

Tinjauan Teknikal

Chart Daily

The Fed Semakin Hawkish, Emas Koreksi
Dari penunjukan indikator trend dan momentum berikut, pergerakan harga sedang mengalami koreksi bearish:

  1. Terbentuk pin bar diikuti dengan bearish bar.
  2. Harga berada di bawah kurva middle band indikator Bollinger Bands, sedangkan titik indikator Parabolic SAR pindah ke atas bar candlestick.
  3. Kurva indikator MACD berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OsMA berada di bawah level 0.00.
  4. Kurva indikator RSI berada di bawah center line (level 50.0).
  5. Garis histogram indikator ADX berganti warna merah yang menunjukkan sentimen bearish.

Support kuat ada pada level 1895 hingga 1876 (sekitar 50% Fibo Retracement), sementara resistance kuat pada level 1958.

Level pivot mingguan: 1952.16

Resistance: 1922.28 (38.2% Fibo Retracement) ; 1958.00 ; 1978.46 (23.6% Fibo Retracement) ; 1998.30 ; 2050.00 ; 2070.35.

Support: 1895.00 ; 1876.74 (50% Fibo Retracement) ; 1849.00 ; 1830.80 (61.8% Fibo Retracement) ; 1800.00 ; 1773.83 (76.4% Fibo Retracement) ; 1752.90 ; 1737.60 ; 1721.54 ; 1700.00 ; 1683.15 ; 1676.70 ; 1640.00 ; 1621.30 ; 1600.00 ; 1566.50 ; 1547.00 ; 1521.00 ; 1485.00 ; 1451.08.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200, EMA 50 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OsMA ; RSI (14) ; ADX (14).

Fibonacci Retracement:

  • Titik Swing Low: 1683.15 (harga terendah 9 Agustus 2021).
  • Titik Swing High: 2070.35 (harga tertinggi 8 Maret 2022).

Download Seputarforex App

Arsip Analisa By : Martin
297642
Penulis

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.