Advertisement

iklan

3 Cara Memanfaatkan Indikator RSI Untuk Day Trading

Penulis

+ -

Kesulitan mencari sinyal entry? Tiga strategi berikut menampilkan cara memanfaatkan indikator RSI untuk Day trading yang bisa Anda coba.

iklan

iklan

Salah satu indikator teknikal yang dianggap akurat dalam membaca pergerakan harga adalah Relative Strength Index (RSI). Perlu diketahui, indikator RSI adalah salah satu jenis Oscillator yang pertama kali ditemukan oleh Welles Wilder pada tahun 1978. Lazimnya, indikator ini digunakan untuk mencari momentum harga berdasarkan level Overbought dan Oversold, serta mendeteksi potensi pergantian arah trend dengan mengamati divergensi pada chart.

Memanfaatkan Indikator RSI

RSI menjadi pilihan banyak trader karena penggunaanya yang tidak terlalu rumit dan bisa diaplikasikan di semua macam gaya trading, salah satunya adalah trading harian atau Day Trading. Lantas, bagaimana caranya?

 

Cara Memasang Indikator RSI Pada Platform Trading

Mungkin beberapa trader masih sangat awam atau bahkan belum pernah memanfaatkan indikator RSI untuk trading. Sebenarnya, hampir semua platform trading menyediakan indikator RSI sebagai tools bawaan, sehingga tidak memerlukan proses instal indikator yang rumit. Misalnya pada platform MetaTrader, trader dapat memasang RSI dengan mengklik pada menu Insert >>> Indicators >>> Oscillators >>> Relative Strength Index

Untuk pengaturan default atau bawaan, periode yang ditentukan adalah 14 dan level-levelnya yaitu 30 dan 70. Jika masih pemula, parameter itu saja sudah cukup bisa menjadi acuan. Namun untuk yang sudah profesional dan memiliki pertimbangan khusus, pengaturan default bisa diubah dan disesuaikan dengan perhitungan yang matang. Jika sudah sesuai, langkah berikutnya klik OK.

 

Cara Menggunakan Indikator RSI Untuk Day Trading

Salah satu fungsi utama indikator RSI adalah untuk mencari momentum peralihan sebuah tren. Hal tersebut biasanya dilakukan dengan mengamati area jenuh yang menandakan tren sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melanjutkan dan sangat berpotensi mengalami perubahan arah. Dalam hal ini, area jenuh bisa disebut dengan istilah Overbought dan Oversold .

 

Trading Memanfaatkan Overbought dan Oversold RSI 

Lazimnya, level 70 dan 30 RSI digunakan sebagai batasan dalam mengukur tingkat kejenuhan pasar. Jika kurva indikator RSI berada di atas level 70, hal tersebut mengindikasikan pasar sedang mengalami jenuh beli (Overbought) yang mengisyaratkan akan terjadi bearish reversal. Sebaliknya, jika kurva berada di bawah level 30, pasar sedang mengalam jenuh jual (Oversold) sehingga ada indikasi akan terjadi bullish reversal.

Selain itu, level 70 dan 30 RSI biasanya digunakan sebagai acuan untuk mencari entry posisi dari sinyal reversal. Trader akan memasang pending order SELL di level 70 atau BUY di level 30. Lebih mudahnya silahkan lihat gambar di bawah ini.

overbought dan oversold rsi (Baca Juga: Cara Menggunakan Indikator RSI)

Pada skenario trading BUY, trader akan mengamati area Oversold dan memasang pending order BUY di sekitar level 30, dengan harapan harga segera berbalik arah serta berhasil melintasi level 30 dari bawah atas ke atas. Sebaliknya, skenario SELL trader akan membuka pending order di sekitar level 70 dan mengharapkan pergerakan harga dari area Overbought dari atas ke bawah. 

Contoh trading dengan level Overbought dan Oversold indikator RSI bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

AUDUSD

Gambar di atas menunjukkan bahwa indikator RSI diaplikasikan pada pair AUD/USD dengan time frame 1 jam (H1). Kurva RSI sudah menunjukkan Oversold yang ditandai dengan garis kuning. Kemudian, harga menguat seiring RSI yang terus naik setelah menembus level 30 RSI dari arah bawah ke atas (lingkaran warna biru). Dengan demikian, eksekusi posisi BUY dapat dilakukan. 

Namun perlu diperhatikan bahwa Overbought dan Oversold tidak selalu menunjukkan pembalikan seperti contoh di atas. Terkadang, setelah ada penembusan pada level 30 atau 70, harga justru tak kunjung berbalik arah. Biasanya hal ini terjadi karena kuatnya tren yang sedang berlangsung. Sehingga, indikator RSI sebaiknya digunakan saat harga tidak trending.

 

Teknik Day Trading Menggunakan Kombinasi RSI

Untuk memanfaatkan indikator RSI lebih maksimal, biasanya trader teknikal akan menambahkan indikator lain sebagai konfirmator ataupun pendukung agar memperoleh sinyal yang jauh lebih akurat. Seperti dilansir Valutrades, beberapa indikator trading yang cocok dipasangkan dengan RSI adalah Exponential Moving Average (EMA) dan MACD. 

 

Kombinasi RSI Dan Double Exponential Moving Average (EMA)

Pada dasarnya, indikator EMA lebih cepat dalam merespon perubahan harga. Dengan kata lain, garis EMA akan tampak lebih luwes mengikuti pergerakan harga terkini dibanding indikator Moving Average lainnya. Karena faktor tersebut, indikator EMA lebih efektif digunakan, terutama untuk trading jangka pendek atau Day Trading.

Strategi kombinasi ini akan memanfaatkan Double Exponential Moving Average (DEMA) yang digunakan untuk mencari sinyal Crossing antara EMA berperiode kecil dan besar. Di lain sisi, indikator RSI akan difungsikan sebagai konfirmator sinyal EMA dengan memanfaatkan garis RSI 50. Untuk setup lengkapnya, trader bisa melihat di bawah ini. 

  • Time Frame: Disarankan menggunakan time frame 15 menit ke atas.
  • Pair: Bebas, semua pair mata uang bisa digunakan pada strategi ini.
  • Pengaturan Indikator: RSI Periode 21, EMA Periode 12 dan 5 (EMA-12 dan EMA-5).

 

Aturan Entry BUY:

  1. Terjadi crossing yaitu EMA-5 melintasi EMA-12 dari arah bawah ke atas, hal ini mengindikasikan bahwa trend telah berubah menjadi uptrend.
  2. Perhatikan pada indikator RSI, jika sinyal sudah berada di atas garis 50 RSI, entry Buy bisa dilakukan.
  3. Tempatkan stop loss beberapa pips di bawah titik crossing indikator EMA. 

 

Aturan Entry SELL:

  1. Terjadi crossing yaitu EMA-5 melintasi EMA-12 dari arah atas ke bawah yang mengindikasikan terjadinya perubahan trend menjadi downtrend.
  2. Perhatikan pada indikator RSI, jika sinyal sudah berada di bawah garis 50, entry SELL bisa dilakukan.
  3. Tempatkan stop loss beberapa pips di atas titik crossing indikator EMA.

Untuk jebih jelasnya silahkan lihat contoh pengaplikasian strategi kombinasi RSI dan DEMA di bawah ini.

Kombinasi RSI dan EMA

Contoh di atas menggunakan pair mata uang EUR/USD dengan time frame 1 jam (H1). Sinyal entry BUY terpantau dengan terjadinya crossing antara EMA-5 dan EMA-12. Kemudian, sinyal juga divalidasi dengan adanya break pada garis 50 di indikator RSI. Dengan demikian, entry posisi BUY dapat diletakkan di sekitar area crossing EMA. Untuk take profit dan stop loss bisa menyesuaikan risk/reward ratio masing-masing. 

 

Kombinasi MACD Dan RSI 

Cara memanfaatkan indikator RSI berikutnya adalah dengan mengkombinasikan indikator MACD. Pada dasarnya, MACD juga dapat digunakan untuk mengetahui peralihan momentum yang dinilai kuat atau lemah. Selain itu, indikator ini juga bisa mendeteksi kondisi Overbought dan Oversold

Area MACD merupakan histogram yang dihitung dari selisih nilai EMA (Exponential Moving Average) periode 12 dengan EMA periode 26. Tampilan area ini bisa naik turun dan kadang-kadang melintasi batas netral di level 0. Ketika trend sedang naik (Uptrend), area histogram MACD berada di zona positif atau di atas level 0. Sementara ketika dalam kondisi downtrend, area histogram MACD bergerak di zona negatif atau di bawah level 0.

Berikut adalah beberapa setup yang perlu diaplikasikan untuk strategi kombinasi RSI dan MACD:

  • Time Frame: Disarankan menggunakan time frame 15 menit ke atas.
  • Pair: Semua pair mata uang bisa digunakan.
  • Pengaturan Indikator: Default.

 

Aturan Entry BUY:

  1. Kondisi chart sedang downtrend dan menunjukkan sinyal peralihan menuju uptrend.
  2. Pada indikator MACD terdapat crossing MA periode rendah melintasi MA periode tinggi, dengan diikuti perubahan histogram yang semula negatif menjadi positif atau di atas garis 0 MACD.
  3. Pada indikator RSI sudah terjadi Oversold dan menunjukkan tanda-tanda akan break garis RSI 30 dari arah bawah ke atas.
  4. Jika tiga kondisi di atas sudah terpenuhi, trader bisa melakukan entry BUY.

 

Aturan Entry SELL:

  1. Kondisi chart sedang uptrend dan menunjukkan akan segera beralih menjadi downtrend.
  2. Pada indikator MACD akan terdapat crossing kurva periode rendah melintasi periode tinggi, dengan diikuti perubahan histogram positif menjadi negatif atau di bawah garis 0 MACD.
  3. Pada Indikator RSI terjadi Overbought dan menunjukkan tanda-tanda akan break garis RSI 70 dari arah atas ke bawah.
  4. Jika tiga kriteria di atas sudah terpenuhi, trader bisa melakukan entry SELL. 

Untuk jebih jelasnya, silahkan lihat contoh penggunakan strategi kombinasi MACD dan RSI di bawah ini.

strategi kombinasi MACD dan RSI

Contoh di atas menggunakan pair mata uang USD/CAD dengan time frame 1 jam (H1). Sinyal SELL terpantau pada chart ditandai dengan adanya crossing pada kurva MACD. Selain itu, pada indikator MACD juga terlihat ada perubahan histogram positif ke negatif (di bawah level 0 MACD).

Sinyal juga dikonfirmasi oleh Overbought RSI dan break dari level 70 ke arah bawah. Dengan demikian, hal ini menunjukkan sinyal SELL yang terkonfirmasi oleh indikator MACD dan RSI. Untuk pemasangan stop loss bisa ditempatkan beberapa pips di atas lokasi entry. Sedangkan target profit bisa menyesuaikan dengan risk/reward ratio masing-masing.

 

Pada akhirnya, tiga macam strategi di atas memerlukan pengujian lebih lanjut sebelum digunakan pada akun riil. Ketahui cara melakukan pengujian strategi ala trader pro agar mempu memaksimalkan sistem trading untuk meraih profit maksimal. 

296555
Penulis

Alumni Sastra Inggris, telah aktif menjadi content writer di berbagai platform sejak tahun 2012. Seorang Blogger yang menyukai bidang SEO, copywriting, dan sempat aktif sebagai trader kripto. Saat ini bergabung di Seputarforex.com sebagai jurnalis berita, artikel dan konten-konten menarik lainnya.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini