Advertisement

iklan

5 Cara Ampuh Meminimalisir Risiko Volatilitas Bitcoin

Penulis

+ -

Masih kesulitan meminimalisir risiko volatilitas Bitcoin? Beberapa cara ini mungkin bisa digunakan saat trading.

iklan

iklan

Seperti yang telah diketahui, Bitcoin adalah mata uang kripto terpopuler hingga saat ini. Namun mungkin banyak yang belum tahu jika Bitcoin merupakan salah satu aset finansial yang memiliki pergerakan harga paling ekstrem. Pada dasarnya, harga Bitcoin dipengaruhi oleh banyak faktor meliputi sentimen investor, supply demand market, berita fundamental, dampak regulasi, dll. Hal ini tentu sangat wajar, karena Bitcoin merupakan sebuah aset baru di dunia finansial sehingga kenaikan dan penurunannya masih sangat rentan.

Fakta uniknya, sejak pertama kali diluncurkan oleh Sathosi Nakamoto pada tahun 2009 silam, harga Bitcoin sejatinya menunjukkan kenaikan yang sangat fantastis. Hingga pertengahan April 2021 kemarin, harga Bitcoin melesat ke puncak tertingginya yaitu $64,000 per BTC. Namun sejak saat itu, tren BTC terus mengalami penurunan. Hingga artikel ini ditulis, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran $47,000 per BTC.

Meminimalisir Risiko Volatilitas Bitcoin

Bagi trader ataupun investor, pergerakan yang ekstrem tersebut tentu sangat menguntungkan bila bisa memanfaatkannya dengan baik. Namun sebaliknya, hal ini juga bisa jadi bencana. Lantas yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara menangani risiko volatilitas Bitcoin?

 

1. Update Berita Kripto

Pada dasarnya, hampir semua aset pergerakannya sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar, termasuk Bitcoin. Dalam hal ini, sentimen Bitcoin biasanya muncul karena adanya liputan berita dari media-media yang berhubungan dengan mata uang kripto ini. Apabila banyak media memberitakan hal positif seputar Bitcoin, hal tersebut cenderung menghasilkan sentimen positif yang membuat harga Bitcoin naik. Sebaliknya, berita negatif akan menghasilkan sentimen buruk dan berdampak pada penurunan harga Bitcoin.

Sebagai contoh, sentimen positif muncul pasca banyak media-media besar memberitakan perusahaan Elon Musk yang telah memborong Bitcoin senilai 1.5 miliar dolar AS atau setara Rp21 triliun pada bulan Februari 2021 silam. Selain itu, Elon Musk juga mengumumkan bahwa perusahaannya menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran untuk membeli produk-produk Tesla. Akibatnya, dalam waktu singkat harga Bitcoin melonjak hingga 12 persen.

Uptodate News

Namun pada bulan Mei 2021, banyak media memberitakan bahwa Tesla tidak lagi menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran di perusahaannya. Hal ini memunculkan sentimen negatif yang membuat harga Bitcoin jatuh dalam waktu singkat.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa salah satu cara terbaik untuk meminimalisir risiko volatilitas Bitcoin adalah dengan selalu update seputar berita yang berhubungan dengan mata uang kripto ini. Bagi pemula, sangat disarankan untuk mempelajari istilah-istilah unik dalam dunia trading kripto guna mempermudah mengenali mana berita yang perlu diperhatikan dan tidak.

 

2. Menggunakan Indikator Teknikal

Sudah menjadi rahasia umum bahwa trading Bitcoin itu sangat menggiurkan. Nilainya yang fantastis membuat banyak trader ingin memilikinya. Namun tingginya volatilitas Bitcoin membuat banyak investor maupun trader menjadi ragu untuk masuk ke instrumen ini. Akan tetapi, ada cara alternatif untuk mengantisipasi risiko volatilitas Bitcoin, salah satunya adalah dengan memanfaatkan indikator teknikal.

Pada dasarnya, indikator pada Bitcoin sama dengan yang ada di trading forex dan saham. Fungsi utamanya pun sama, yaitu untuk menganalisa pergerakan harga, mengukur volatilitas, dan mengidentifikasi level-level penting yang bisa menjadi target entry ataupun exit. Beberapa indikator teknikal yang kerap digunakan beberapa trader adalah Moving Average, MACD, RSI, Awan Ichimoku Kinko Hyo, dll.

Indikator teknikal

Namun perlu diketahui, indikator teknikal hanyalah tools atau alat bantu dalam menganalisa pasar. Sehingga, tidak disarankan trader seratus persen mempercayakan indikator teknikal sebagai acuan entry dan exit. Pasalnya, indikator teknikal memiliki sifat dasar yaitu lagging dan leading ; di mana dua-duanya memiliki kelamah dan kelebihan masing-masing pada situasi dan kondisi tertentu.

 

3. Fokus Strategi Long-Term (Jangka Panjang)

Salah satu cara paling ampuh untuk meminimalisir risiko volatilitas Bitcoin adalah dengan fokus membangun strategi trading jangka panjang (long-term trading). Namun pada kenyataannya, kebanyakan trader terutama pemula akan cenderung trading dengan metode Scalping atau short-term karena tidak membutuhkan waktu lama.

Padahal bila diamati, pergerakan harga Bitcoin akan sangat jauh lebih ekstrem bila menggunakan time frame kecil, dan tren yang diciptakan oleh time frame kecil merupakan trend sementara. Sebaliknya, time frame long-term bisa menunjukkan trend harga yang lebih terlihat jelas. Inilah sebabnya, banyak trader profesional lebih memilih strategi long-term. Beberapa strategi trading long-term antara lain teknik Hodling dan Dollar Cost Averaging.

strategi long term (Baca Juga: Strategi Dollar Cost Averaging, Apa Manfaatnya?)

Namun perlu diketahui, strategi long-term juga memiliki kelemahan yaitu membutuhkan waktu lebih lama untuk profit dibandingkan Scalping atau Day Trading. Sehingga dalam hal ini, kesabaran trader akan sangat diuji. Selain itu, penganut strategi long-term akan menghadapi kemungkinan floating minus besar. Sehingga dalam hal ini, diperlukan modal besar agar posisi terus terbuka hingga tren kembali ke skenario yang diinginkan.

"Jika membuka posisi Buy, maka trader harus siap menanggung risiko harga turun ke level terendah yang pernah terjadi. Sebaliknya pada posisi Sell, maka bersiaplah menanggung risiko harga akan naik ke level tertinggi."

 

4. Hindari Ego Berlebihan

Musuh utama kebanyakan trader adalah dari faktor psikologi. Pada saat trading, banyak trader yang justru terbawa emosi dan menuruti ego pada saat trading. Padahal, menuruti ego berlebihan pada saat trading sangatlah dilarang, karena hal tersebut mendorong trader tidak terkontrol hingga trading di luar trading plan.

Seorang trader profesional Richard Dennis pernah berkata bahwa musuh utama seorang trader bukanlah volatilitas harga yang ekstrem ataupun strategi trading yang buruk, melainkan sulitnya melawan ego. Menurut beliau, ego yang tidak bisa terkontrol akan melahirkan sifat serakah, percaya diri berlebihan, gejala FOMO, hingga tidak sabaran. Sifat-sifat inilah yang biasanya menuntun trader ke jurang kekalahan.

tekan ego

Pasar Bitcoin adalah tempat yang kejam untuk siapa saja yang tidak jeli dalam melihat kondisi pasar. Pergerakannya yang ekstrem sangat berpotensi mengakibatkan kebangkrutan dalam waktu singkat. Trader yang masih dikuasai egonya, tentu sangat tidak disarankan untuk trading Bitcoin. Alih-alih mengincar keuntungan, justru kerugian yang akan menghampirinya.

Bisa ditarik kesimpulan, meminimalisir risiko volatilitas Bitcoin sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja, asalkan trader sudah memiliki psikologi trading yang baik . Bagi trader yang masih terbawa emosi pada saat trading, lebih disarankan memperbaiki psikologi trading terlebih dahulu agar mampu menekan ego. Hal tersebut bisa dilakukan dengan membuat trading plan yang jelas, jurnal trading, hingga bermeditasi untuk melatih kedisiplinan diri.

Jadi ketika trader dihadapkan pada pasar Bitcoin yang sedang volatile, trader tidak lagi mudah panik tetapi justru mencoba menganalisa lebih dalam untuk mendapatkan sinyal entry yang menguntungkan.

 

5. Diversifikasi Aset

Cara terakhir untuk meminimalisir risiko volatilitas Bitcoin adalah dengan melakukan diversifikasi aset. Mungkin trader pernah mendengar pepatah "jangan menaruh telur di keranjang yang sama". Telur diibaratkan seperti uang yang dimiliki dan keranjang sebagai wadah untuk menempatkan modal.

Begitu juga dalam trading Bitcoin, alangkah baiknya modal yang ada dialokasikan secara bijak ke beberapa jenis aset. Trader bisa membagi modal ke aset lain sebagai penyeimbang seperti: emas, reksadana, saham, obligasi, dll. Sehingga, ketika market Bitcoin mengalami crash atau penurunan tajam, setidaknya ada aset-aset lain yang bisa mengurangi risiko kerugian.

Diversifikasi aset (Baca Juga: Diversifikasi Trading Kripto, Bagaimana Cara Melakukannya?)

Untuk persentase diversifikasi aset sebenarnya sangat fleksibel, karena paling baik disesuaikan dengan toleransi dan profil risiko masing-masing.

Sebagai contoh, untuk profil risiko konservatif, bisa mentitikberatkan modal lebih banyak pada aset yang memiliki imbal hasil stabil seperti emas, obligasi, deposito, dll; selebihnya diletakkan di Bitcoin dengan persentase 70:30. Pada profil risiko moderat bisa seimbang 50:50 persen. Sebaliknya pada profil risiko agresif, modal akan lebih banyak diletakkan di Bitcoin dibanding aset stabil, dengan persentase 30:70.

 

Masih kesulitan mendapat profit saat trading Bitcoin? Selain karena faktor volatilitas, mungkin salah satu penyebabnya adalah salah pilih indikator trading. Sebagai tips, simak rujukan para tokoh kripto seputar indikator Bitcoin terbaik

296436
Penulis

Alumni Sastra Inggris, telah aktif menjadi content writer di berbagai platform sejak tahun 2012. Seorang Blogger yang menyukai bidang SEO, copywriting, dan sempat aktif sebagai trader kripto. Saat ini bergabung di Seputarforex.com sebagai jurnalis berita, artikel dan konten-konten menarik lainnya.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini