Advertisement

iklan

Cara Ampuh Trading Dengan Indikator DEMA

Penulis

+ -

Trading dengan indikator DEMA menghadirkan pilihan menarik bagi para antusias Moving Average. Apa keistimewaannya dibandingkan SMA dan EMA? Benarkah indikator DEMA bisa menangkap lebih banyak peluang trading?

iklan

iklan

Karena keampuhan dan kesederhanaannya, banyak yang menganggap jika Moving Average adalah indikator "sejuta umat" bagi para trader. Jenis-jenis Moving Average seperti SMA dan EMA pun sering diandalkan dalam berbagai macam strategi; baik sebagai indikator utama atau pelengkap saja.

Nah, bagi Anda para penggemar Moving Average, pernahkah mendengar jenis indikator DEMA? Apa yang membedakannya dari SMA dan EMA? Bagaimana cara trading dengan indikator DEMA? Artikel ini akan mengupas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Trading dengan indikator DEMA (Baca juga: Moving Average: Indikator Sederhana Dengan Banyak Fungsi)

 

Indikator DEMA: Lebih Responsif Dari SMA Dan EMA

DEMA merupakan singkatan dari Double Exponential Moving Average yang dikembangkan oleh Patrick Mulloy. Indikator ini ia perkenalkan pertama kali pada tahun 1994 melalui majalah bulanan "Technical Analysis of Stocks and Commodities". Patrick Mulloy membangun indikator DEMA untuk menemukan studi trading dengan Moving Average yang bisa mengurangi karakter lagging MA dan menemukan lebih banyak peluang entry.

Itulah mengapa, indikator DEMA dapat bekerja dengan respon yang lebih baik terhadap pergerakan harga terbaru. Hal ini pada gilirannya menjadikan DEMA lebih kompetitif dibanding MA tradisional yang sering terlambat menampilkan sinyal entry karena sifat lagging-nya.

Chart di bawah ini menampilkan contoh perbandingan SMA, EMA, dan DEMA dengan periode yang sama. Jika diperhatikan, maka pergerakan indikator DEMA tampak lebih sensitif merespon pergerakan harga jika dibandingkan dengan SMA dan EMA.

DEMA vs SMA vs EMA

Rumus perhitungan indikator DEMA sebenarnya cukup kompleks. Pada dasarnya, tool ini mengkombinasikan EMA single dan double untuk menghasilkan suatu EMA jenis baru. Jika dirumuskan, berikut adalah formula indikator DEMA:

EMA1 = EMA dari pergerakan harga saat ini.

EMA2 = EMA dari EMA1

DEMA = (2 x EMA1) - EMA2

Untuk mengetahui rumus perhitungan EMA, silahkan pelajari di artikel Penggunaan Indikator Moving Averages (2).

Susah dipahami? Jika ya, Anda tak perlu berkecil hati karena formula indikator sesungguhnya tak perlu dihafal di luar kepala. Hanya saja, mengetahui rumus indikator DEMA bisa bermanfaat jika suatu hari nanti Anda sudah piawai melakukan analisa teknikal dan berniat memodifikasi penggunaan indikator DEMA.

 

3 Sinyal Trading Indikator DEMA

Pada dasarnya, trading dengan indikator DEMA bisa menghadirkan berbagai manfaat teknikal. Tiga diantaranya adalah:

Sinyal trading indikator DEMA

 

1. Identifikasi Trend

Mengenali trend adalah salah satu aspek terpenting dalam trading. Walaupun trend naik, turun, ataupun sideways bisa dibaca dengan hanya melihat pergerakan harga di chart, bantuan indikator untuk identifikasi trend dapat memberikan nilai objektif terhadap analisa Anda.

Sebagai alat bantu untuk membaca trend, indikator DEMA sebenarnya tidak jauh berbeda dengan SMA ataupun EMA. Suatu kondisi uptrend terkonfirmasi apabila harga bergerak di atas DEMA dan grafik indikator tersebut bergerak naik. Sebaliknya, kondisi downtrend ditandai dengan pergerakan harga di bawah DEMA dan grafik indikator yang menurun. Ketika sideways, indikator DEMA akan bergerak flat dan posisinya tidak jauh dari harga atau bahkan bisa menempel di atasnya.

 

2. Support Resistance Dinamis

Dari berbagai macam support resistance yang bisa diterapkan untuk trading, support resistance dinamis dan statis menjadi 2 golongan yang paling banyak dikenal. Support resistance statis merupakan garis-garis horizontal yang membatasi pergerakan harga di level tertentu. Yang termasuk dalam kategori ini adalah Pivot Point, Fibonacci, level psikologis, support resistance yang dipasang secara manual dengan garis-haris horizontal di chart, dan sejenisnya.

Sementara itu, support resistance dinamis cenderung bergerak mengikuti pergerakan harga, sehingga posisinya tidak fixed di level tertentu. Trendline merupakan contoh alat analisa teknikal paling populer yang masuk dalam kategori ini. Selain itu, ada pula channel-channel Bollinger Bands dan tentu saja garis Moving Average yang bisa difungsikan sebagai support resistance dinamis.

Mengingat fungsinya sebagai Moving Average, indikator DEMA bisa memberikan gambaran support dinamis saat ia bergerak di bawah harga, begitupun sebaliknya. Yang perlu diperhatikan saat trading dengan indikato DEMA, pemanfaatan support resistance dinamis biasanya terkait dengan peluang pullback dalam kondisi trending.

 

3. Mengenali Sinyal Entry

Tak jauh berbeda dengan SMA dan EMA, sinyal entry bisa didapatkan dari indikator DEMA melalui persilangan (crossing) dengan harga, atau crossing dengan sesama garis DEMA berperiode lain. Sebagian trader lebih suka menggabungkan dua garis DEMA untuk mendapatkan sinyal entry dari crossing indikator. Lantas, periode apa sajakah yang disarankan?

Sebagai contoh, Vic Patel dari Forex Training Group menggunakan indikator DEMA dengan periode 21 dan 50. Prinsipnya, ketika DEMA 21 melintasi DEMA 50 dari bawah ke atas (bullish crossing), sinyal entry yang direkomendasikan adalah buy karena hal itu menandakan perubahan trend dari bearish ke bullish. Di lain pihak, sinyal entry sell terjadi ketika DEMA 21 melintasi DEMA 50 dari atas ke bawah (bearish crossing).

Sinyal Entry Indikator DEMA

Kekuatan trend kemudian bisa dinilai dari posisi kedua garis DEMA terhadap harga. Jika DEMA 21 konsisten berada di atas DEMA 50 setelah terjadi bullish crossing, maka hal itu menandakan kekuatan uptrend yang menjanjikan. Hal yang sebaliknya juga berlaku untuk kondisi downtrend setelah bearish crossing terjadi.

Saat trading dengan indikator DEMA, waspadai jika dua garis indikator melakukan persilangan secara berturut-turut dan dalam jarak dekat, karena hal itu menandakan ketidakpastian pasar dan tidak bisa digunakan sebagai sinyal entry.

 

Bagaimana Cara Trading Dengan Indikator DEMA?

Ada banyak strategi yang bisa dibangun dengan indikator DEMA. Anda bisa menggabungkannya dengan price action, indikator lain, atau tool teknikal seperti Fibonacci dan sejenisnya. Yang dicontohkan dalam artikel ini adalah strategi yang sedikit unik karena menggabungkan sinyal indikator DEMA dengan trendline channel dan teori gelombang ABC.

Pada dasarnya, di sini kita akan mencari pergerakan harga naik atau turun yang membentuk pola ABC dan mengidentifikasinya dengan trendline channel. Dalam terminologi Elliot Wave, pola ABC juga dikenal sebagai pola zigzag. Sementara jika Anda lebih akrab dengan istilah trading harmonic, maka gelombang yang kita cari bisa disamakan dengan pola AB=CD.

Pola ABCD (Baca juga: Pola ABCD Dan Three Drives)

Dalam konteks trend yang lebih besar, pola ABC adalah sebuah fase korektif. Sehingga, kita perlu mencari pola ABC naik dalam sebuah downtrend, atau gelombang ABC turun dalam sebuah uptrend.

Untuk indikator DEMA yang digunakan masih sesuai dengan rekomendasi di bagian sebelumya, yakni DEMA 21 dan 50. Time frame yang direkomendasikan adalah 8H atau Daily. Sementara pair trading yang dipilih sebaiknya tidak keluar dari pilihan pair-pair mayor.

Jika dirumuskan, berikut adalah aturan buy dan sell strategi trading dengan indikator DEMA dan pola ABC:

Setup Entry Buy

  • Terbentuk gelombang ABC turun di tengah uptrend.
  • Harga sudah menembus batas atas pola ABC dan tertutup di atas area tersebut.
  • Indikator DEMA 21 melintasi DEMA 50 dari bawah ke atas SEBELUM breakout harga dari gelombang ABC terjadi.
  • Entry buy setelah candle breakout selesai terbentuk.
  • Stop Loss bisa ditempatkan di bawah Low candle breakout.
  • Tutup posisi untuk mengambil keuntungan jika DEMA 21 melintasi DEMA 50 dari atas ke bawah.

Setup Entry Sell

  • Terbentuk gelombang ABC naik di tengah downtrend.
  • Harga menembus batas bawah gelombang ABC dan tertutup di bawah area tersebut.
  • DEMA 21 crossing dari atas ke bawah DEMA 50 SEBELUM breakout gelombang ABC.
  • Entry sell setelah candle breakout selesai terbentuk.
  • Tempatkan Stop Loss di atas High candle breakout.
  • Exit posisi sell setelah DEMA 21 bergerak menyilang DEMA 50 dari bawah ke atas.

Identifikasi Peluang Sell

Secara umum, strategi trading dengan indikator DEMA ini dikembangkan untuk menangkap peluang dari pergerakan impulsif setelah fase koreksi. Pasca breakout, harga memang diekspektasikan untuk bergerak kencang karena memasuki fase impulsif baru. Indikator DEMA dalam hal ini membantu mengenali perubahan arah pergerakan harga untuk mengkonfirmasi sinyal breakout. Selain itu, crossing DEMA juga menjadi sinyal exit untuk memastikan posisi ditutup sebelum harga berbalik arah.

 

Jika Anda tertarik mempelajari strategi trading dengan Moving Average lainnya, ulasan mengenai Triangular Moving Average dapat menjadi pilihan menarik yang bisa dibandingkan dengan keampuhan indikator DEMA.

Download Seputarforex App

295600
Penulis

Alumni Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya yang sekarang menjadi pengisi konten artikel di seputarforex.com. Aktif menulis tentang informasi umum mengenai forex, juga terinspirasi untuk mengulas profil dan kisah sukses trader wanita.

Theo
Untuk mendapat kan indikator DEMA di MT4 bagaimana cara nya?
Terimakasih
Galuh
Indikator DEMA memang tidak disediakan secara default di MT4. Jika hanya untuk keperluan analisa, sebaiknya menggunakan fasilitas chart TradingView dan memasang Indikator DEMA yang tersedia di sana. Namun apabila Anda memang ingin menggunakan DEMA di chart yang sama dengan platform tempat Anda trading, maka bisa memasangnya di MT4 sebagai custom indicator.Untuk custom indicator DEMA buat MT4 bisa diperoleh di website MQL5, tepatnya di halaman ini.

Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini