Advertisement

iklan

Aksi Ambil Untung Bikin Dolar Terkoreksi Pasca Rilis GDP AS

Penulis

+ -

Dolar AS tetap berpeluang mengakhiri April dengan penguatan bulanan paling impresif dalam dua dekade terakhir.

iklan

iklan

Seputarforex - Indeks dolar AS (DXY) menurun 0.65 persen ke kisaran 102.90-an dalam perdagangan sesi Eropa hari Jumat (29/April). Pasalnya, pelaku pasar melancarkan aksi ambil untung seusai rilis data GDP AS yang mengecewakan.

Berbagai mata uang mayor lain memanfaatkan kesempatan untuk menguat, khususnya pound sterling, euro, dan dolar Australia. Kendati demikian, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih menopang kurs dolar AS pada rentang atas. Dolar AS tetap berpeluang untuk mengakhiri April dengan penguatan bulanan paling impresif dalam dua dekade terakhir.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

US Bureau of Economic Analysis melaporkan bahwa Gross Domestic Product (GDP) mencetak pertumbuhan -1.4 persen (Quarter-over-Quarter) dalam laporan preliminer untuk kuartal I/2022 yang dirilis pada hari Kamis. Perlambatan ekonomi terjadi karena banyak faktor, seperti peningkatan kasus infeksi virus Corona, membengkaknya defisit neraca dagang, perang Rusia-Ukraina, dan lonjakan inflasi yang teramat pesat. Untungnya, belanja konsumen tetap meningkat dan suportif bagi pertumbuhan GDP AS ke depan.

Amerika Serikat juga masih menjadi salah satu negara berkinerja ekonomi terbaik di tengah ancaman perlambatan ekonomi akibat lockdown di China dan perang di Eropa. Pertumbuhan AS yang melambat pada kuartal pertama, kemungkinan pulih pada periode-periode berikutnya.

"Kontraksi yang mengejutkan dalam pertumbuhan membuat dolar mengalami sejumlah aksi ambil untung seusai lonjakan mengagumkannya pekan ini," kata Joe Manimbo, analis senior dari Western Union Business Solution, "Dolar (sebelumnya) menerobos ke posisi tertinggi 5 tahun baru karena masih menjadi mata uang pilihan di tengah peningkatan kekhawatiran tentang pertumbuhan global."

"Kejatuhan dalam GDP (AS) tak seburuk kelihatannya," ujar Daniel Vernazza, Kepala Ekonom Internasional di UniCredit Bank, "Ini karena beban terbesar GDP pada 1Q/22, yaitu persediaan dan ekspor neto, juga merupakan komponen yang paling tidak stabil dan kemungkinan akan meningkat di kuartal mendatang."

Para analis menilai satu laporan GDP AS saja tak cukup untuk membuat Federal Reserve membatalkan rencana kenaikan suku bunganya. Alhasil, The Fed tetap diperkirakan bakal menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada rapat FOMC pekan depan.

"The Fed telah bekerja keras untuk mengomunikasikan kepada pasar hingga mencapai situasi sekarang, dan satu data GDP yang lemah secara mengejutkan tidak akan membuat semua itu ambyar," kata Derek Halpenny, kepala riset MUFG, dalam catatan untuk kliennya yang dikutip oleh Reuters.

Patut untuk dicatat bahwa USD/JPY masih berada di atas ambang 130.00 meskipun telah mengalami penurunan lebih dari 0.5 persen sejak pembukaan sesi Asia hingga pertengahan sesi Eropa hari ini. Pasangan mata uang tersebut merupakan yang paling sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga, sehingga stabilitasnya di atas ambang 130.00 menandakan bahwa ekspektasi suku bunga The Fed tetap tinggi dan suku bunga BoJ tetap rendah.

Download Seputarforex App

297668
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.