Advertisement

iklan

Dolar AS Terkoreksi Menyusul Kemunduran Yield Obligasi

Penulis

+ -

Yield obligasi US Treasury 10Y kini berada pada level 2.684 persen, padahal beberapa hari lalu sempat mendekati kisaran 2.800 persen.

iklan

iklan

Seputarforex - Indeks dolar AS (DXY) terkoreksi turun ke bawah ambang 100.00 menyusul kemunduran dalam yield obligasi US Treasury. Greenback terpantau melemah, khususnya terhadap sterling dan euro. Saat berita ini ditulis pada paruh terakhir sesi Asia hari Kamis (14/April), USD/JPY pun mengerem reli bullish untuk sementara waktu di bawah ambang 126.00.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

Yield obligasi US Treasury 10Y kini berada pada level 2.684%, padahal beberapa hari lalu sempat mendekati kisaran 2.800%. Dinamika ini lantas memangkas tekanan bullish dolar AS terhadap berbagai mata uang utama lain.

"Pada awal minggu, saya mengatakan semuanya mengikuti kenaikan berkelanjutan dalam yield AS, ekuitas turun, dolar melonjak; dan sekarang karena apa yang terjadi pada US Treasury (pula), semuanya berbalik," ujar Ray Atrrill, kepala strategi FX global di National Bank of Australia, sebagaimana dilansir oleh Reuters.

Pound sterling membukukan rebound paling tajam versus dolar AS kemarin. Kurs GBP/USD meloncat dari kisaran 1.2970-an sampai lebih dari 1.3100, seusai rilis data inflasi Inggris yang menampilkan angka-angka jauh lebih tinggi dari estimasi konsensus. Bank of England (BoE) kemungkinan akan menaikkan suku bunga lagi pada bulan depan, meskipun sejumlah analis mulai mengkhawatirkan dampak "rate hike" beruntun terhadap kondisi keuangan rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi Inggris.

Kurs USD/CAD juga merosot sejak sesi New York berkat pengumuman kenaikan suku bunga acuan Bank of Canada (BOC). BoC menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dari 0.5 persen menjadi 1.0 persen -sesuai ekspektasi pasar- sekaligus menyampaikan sinyal untuk "rate hike" yang lebih agresif ke depan.

Pelaku pasar hari ini menantikan pengumuman hasil rapat bank sentral Eropa (ECB) untuk memeriksa apakah mereka akan bersikap sama hawkish-nya dengan rekan-rekan bank sentral utama lainnya. ECB menghadapi risiko stagflasi yang cukup unik, karena laju inflasi meroket dan perekonomian berpotensi melambat akibat imbas dari perang Rusia-Ukraina.

Download Seputarforex App

297612
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.