Advertisement

iklan

Inflasi AS Tertinggi Dalam 13 Tahun, USD Meroket

Penulis

+ -

Pasar spontan mendorong reli dolar AS seusai rilis data inflasi AS, tetapi analis menilai data tersebut takkan memotivasi The Fed untuk segera menaikkan suku bunga.

iklan

iklan

Seputarforex - Dolar AS rebound pada perdagangan sesi New York kemarin, setelah rilis data inflasi yang amat mengejutkan pelaku pasar. Saat berita ditulis pada sesi Eropa hari Kamis ini (13/Mei), indeks dolar AS telah menggapai kembali rentang 90.90-an. Greenback juga masih unggul dalam semua pasangan mata uang mayor. Namun, analis menilai data inflasi tersebut takkan memotivasi bank sentral AS untuk segera menaikkan suku bunga.

DXY Daily

US Bureau of Labor Statistics melaporkan bahwa inflasi konsumen AS tumbuh 0.8 persen (Month-over-Month) pada bulan April 2021, empat kali lipat lebih cepat dibandingkan ekspektasi konsensus yang hanya sebesar 0.2 persen. Akselerasi tersebut mendorong laju inflasi konsumen tahunan sampai 4.2 persen (Year-on-Year), tingkat tertingginya dalam hampir 13 tahun terakhir.

Data inflasi inti juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Inflasi inti tumbuh 0.9 persen (Month-over-Month) pada bulan April 2021, mendorong laju tahunan ke tingkat 3.0 persen (Year-on-Year). Tak pelak, semua ini langsung mengguncang pasar dan mengubah ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve.

Federal Reserve telah berulang kali menegaskan akan mengesampingkan lonjakan inflasi transisional tahun ini, dengan anggapan bahwa kenaikan inflasi takkan berkelanjutan. Akan tetapi, pasar tetap bereaksi menanggapi data inflasi kali ini yang terlalu jauh melampaui ekspektasi.

Reuters melaporkan bahwa kontrak futures untuk suku bunga jangka pendek sekarang merefleksikan kepastian 100% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini, bukannya menunggu sampai 2023 sebagaimana telah diungkapkan oleh para pejabat The Fed. Yield obligasi US Treasury 10Y juga meroket ke tertinggi dua pekan, sehingga mendorong USD menguat terhadap beragam mata uang high risk.

GBP/USD tertolak dari level resistance pada 1.4150-an ke kisaran 1.4020-an. EUR/USD juga terpuruk lagi pada kisaran 1.2065, sementara AUD/USD terperosok ke rentang terendah sepekan pada kisaran 0.7690-an.

Pakar strategi dari ING menuliskan dalam catatan untuk kliennya bahwa reaksi risk-off ini kemungkinan takkan bertahan lama. Mereka bahkan mensinyalir indeks dolar berpotensi jatuh kembali ke bawah 90 dalam beberapa pekan mendatang.

"Meski lonjakan harga adalah fenomena yang jelas mendunia dan kami setuju bahwa The Fed akan perlu menaikkan (suku bunga) lebih cepat dibanding pernyataannya saat ini (mungkin pada kuartal pertama 2023), kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu sangat dekat tampaknya tak mungkin (terjadi)," ungkap ING.

Download Seputarforex App

295725
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan SeputarForex!

Baca Selengkapnya Di Sini