Advertisement

iklan

Output Industri AS Turun, Harga Minyak Melemah Terbatas

Penulis

+ -

Harga minyak melemah merespon kemunduran output industri AS. Namun, analis tetap optimis berkat prospek permintaan jelang musim dingin dan pelonggaran lockdown.

iklan

iklan

Seputarforex - Harga minyak mentah melemah pada sesi penutupan awal pekan dan masih berusaha pulih di hari Selasa pagi ini (19/Oktober). Kemerosotan dipicu oleh mencuatnya kekhawatiran pasar terhadap prospek permintaan menyusul rilis data Output Industri AS yang turun. Pada saat berita ini diturunkan, minyak Brent berada pada kisaran $84.62 per barel, sementara minyak WTI bergerak pada kisaran $82.42 per barel.

Harga Minyak Turun

Data Industrial Production AS dilaporkan merosot ke level terendah dalam 7 bulan terakhir. Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh kekurangan bahan baku semi-konduktor secara berkelanjutan, sehingga menekan produksi kendaraan bermotor.

"Pasar minyak dimulai dengan banyak kegembiraan, tetapi data produksi industri AS yang memburuk membuat investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap prospek permintaan. Data ekonomi China yang mengalami perlambatan juga meningkatkan kekhawatiran pasar," kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group di New York.

Sementara itu, ekspektasi kenaikan produksi minyak mentah AS turut menambah risiko penurunan harga ke depan. Menurut laporan terbaru EIA, produksi minyak mentah AS diperkirakan meningkat 62 ribu barel per hari (bph) pada bulan November mendatang. Jika skenario ini terjadi, maka produksi AS akan terakumulasi menjadi 8.29 juta bph dari kawasan Texas dan New Meksiko saja.

 

Minyak Masih Ditopang 2 Faktor Ini

Terlepas dari risiko penurunan permintaan dan peningkatan pasokan, sebagian besar analis tetap optimis terhadap harga minyak. Pasalnya, musim dingin di belahan bumi bagian utara diproyeksi akan lebih dingin tahun ini, sehingga berpeluang meningkatkan permintaan terhadap komoditas energi seperti minyak dan gas. Langkah banyak negara yang mulai melonggarkan pembatasan COVID-19 juga bisa menopang permintaan minyak dalam jangka menengah.

"Pelonggaran pembatasan COVID-19 di banyak negara kemungkinan akan membantu pemulihan konsumsi bahan bakar. Selain itu, pengalihan gas ke minyak untuk pembangkit listrik akan meningkatkan permintaan sebanyak 450 ribu bph pada kuartal keempat," kata analis ANZ Bank dalam sebuah catatan.

Download Seputarforex App

296610
Penulis

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini