Advertisement

iklan

Rupiah Ambyar Gegara Ekspektasi Kebijakan The Fed

Penulis

+ -

Rupiah terperosok di awal pekan menyusul sikap agresif The Fed dalam menentukan kebijakan moneter selanjutnya. Selain itu, konflik geopolitik juga menjadi faktor pendorong.

iklan

iklan

Seputarforex - Membuka awal pekan, rupiah terjungkal semakin dalam versus Dolar AS. Saat berita ini diturunkan pada awal sesi Eropa hari Senin (25/April), nilai tukar rupiah sudah berada di level 14465, anjlok 0.75% dari level pembukaan harian. Beberapa analis berpendapat jika pergerakan rupiah hari ini ada kaitannya dengan beberapa faktor global.

Rupiah hari ini

Menurut Analis Pasar Uang Ariston Tjendra, terpuruknya rupiah merupakan imbas kekhawatiran pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS yang semakin agresif. Hal ini menyebabkan penguatan Dolar AS yang akhirnya berimbas pada merosotnya nilai rupiah.

"Naiknya ekspektasi pasar ini dipicu oleh pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS termasuk Gubernur Jerome Powell yang mendukung kenaikan suku bunga acuan AS sebesar 50 basis poin pada rapat berikutnya untuk memerangi inflasi," kata Ariston.

Ariston juga memprediksi jika trend bearish rupiah kemungkinan masih akan berlanjut. Pasalnya, Powell juga mengindikasikan setidaknya satu lagi langkah kenaikan suku bunga menyusul rate hike 50 bps di bulan Mei. Presiden The Fed St Louis, James Bullard, bahkan mengatakan dirinya terbuka dengan kenaikan suku bunga sebesar 0.75%. Hal ini merupakan langkah yang sangat berani untuk mengekang lonjakan harga.

 

Konflik Geopolitik Jadi Penyebab Tambahan

Kenaikan suku bunga The Fed bukan satu-satunya alasan mengapa rupisah terhempas. Menurut Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, ketegangan konflik antara Rusia dan Ukraina turut berperan pada pelemahan rupiah hari ini.

Pasalnya, konflik geopolitik tersebut menyebabkan tingginya harga komoditas, terutama harga energi dan makanan yang berdampak langsung ke berbagai negara.

"Indonesia ikut terkena dampak dengan naiknya harga komoditas, sehingga mengakibatkan inflasi yang tinggi dan ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 yang kemungkinan juga akan menurun," tutur Ibrahim.

Menurut Ibrahim, perang Rusia-Ukraina menyebabkan masalah dalam rantai pasokan global sehingga berpotensi membuat perlambatan ekonomi global.

Download Seputarforex App

297644
Penulis

Menekuni dunia tulis menulis dan SEO sejak 2011. Berkarir di bidang berita online selama dua tahun sebelum bergabung dengan Seputarforex. Sedang giat-giatnya belajar dunia trading.