Advertisement

iklan

Survei Reuters: Mata Uang Negara Berkembang Terus Tegang Versus Dolar

Penulis

+ -

Hasil survei Reuters terbaru menyebutkan, mata uang negara-negara berkembang diperkirakan akan terus bergumul melawan Dolar AS yang lebih kuat.

iklan

iklan

Seputarforex.com - Mata uang sejumlah negara berkembang telah mengalami penguatan belakangan ini, setelah sempat luluh lantak versus Dolar AS selama kuartal pertama tahun 2020. Akan tetapi, hasil survei Reuters terbaru menyebutkan bahwa para analis memperkirakan beragam mata uang negara berkembang akan terus bergumul melawan Dolar AS yang relatif lebih kuat dalam tiga bulan ke depan. Hal ini disebabkan karena mencuatnya kembali isu perang dagang AS-China.

Mata Uang Negara Berkembang

Akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman baru untuk mengenakan sanksi terhadap China atas tuduhan menjadi biang pandemi virus Corona. Hingga kini, masih belum jelas sanksi seperti apa yang akan dikenakan AS kepada China. Akan tetapi, pelaku pasar sudah mulai ketar-ketir mengantisipasi imbas dari bergolaknya lagi ketegangan antara kedua negara.

"Hal ini kemungkinan akan menempatkan cacat serius dalam reli risk-on yang aneh dan berlawanan dengan pehitungan matematis yang kita saksikan sepanjang pekan," ujar Michael Every dari Rabobank.

Reuters mewawancarai 56 pakar strategi pasar dalam periode 4-6 Mei. Sebanyak 22 responden menilai mata uang dari pasar-pasar negara berkembang utama -sebagian besar diantaranya mengekspor bahan mentah ke China- berada dalam risiko untuk melemah selama tiga bulan ke depan sementara safe haven tetap populer. Sebanyak 16 responden lain mengatakan nilai tukar akan berkisar seputar level saat ini.

Walaupun kondisi pasar belakangan ini sudah lebih kalem, para responden juga berpendapat bahwa volatilitas mata uang lebih tinggi akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Situasi pandemi dan geopolitik global masih menjadi sorotan utama.

"Para investor memang kadang-kadang menggunakan mata uang negara berkembang ber-yield rendah sebagai strategi defensif, tetapi ketika minat risiko meningkat, mereka kemungkinan akan mengincar (mata uang) seperti Afrika Selatan yang memiliki nilai nominal dan nilai riil yield tertinggi," kata Mike Keenan dari Absa Capital, "Volatilitas tetap tinggi sejak puncak bulan lalu. (Volatilitas) hanya akan berkurang lebih lanjut jika kita mendapatkan perbaikan dalam situasi COVID dan asalkan ketegangan apa pun antara AS dan China tidak berkobar."

292897
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini