Advertisement

iklan

Profil Penulis : pandawa

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.

iklan

iklan

Tapering The Fed kemungkinan akan dilakukan secara bertahap per bulan November. Dolar AS pun menguat karena naiknya prospek rate hike.
Bank Sentral Jepang mempertahankan suku bunga dan melanjutkan program pembelian aset hingga inflasi mencapai target. Yen merosot pasca pengumuman tersebut.
Secara garis besar, notulen rapat RBA yang diumumkan pagi ini tidak banyak memberikan kejutan berarti. AUD/USD menguat karena aksi profit taking.
Dolar AS menguat di level tertinggi 3 pekan jelang pengumuman FOMC. Hal ini membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing.
Dolar AS menguat karena sentimen penghindaran risiko atas kekhawatiran investor terhadap virus Corona Delta dan antisipasi pengumuman FOMC pekan ini.
Penurunan tajam ketenagakerjaan Australia sebagian besar disebabkan oleh pembatasan COVID-19 di kawasan New South Wales. AUD/USD pun melemah.
Retail Sales China mengalami perlambatan pada bulan Agustus, begitu pula dengan output industri dan investasi aset tetap. Hal ini mencerminkan dampak lonjakan kasus COVID-19 di China.
Kenaikan sentimen Australia didukung oleh optimisme konsumen terhadap program vaksinasi yang saat ini masih berlangsung. Namun, AUD gagal mendapat momentum kenaikan karena aksi penghindaran risiko global.
Inflasi Produsen Jepang bertahan di dekat level tertinggi multi tahunan karena tingginya harga komoditas global. USD/JPY bergerak stabil menyusul rilis data ini.
Dolar AS sedikit menguat terhadap mata uang mayor di tengah antisipasi pasar terhadap rilis data inflasi. Selain itu, sentimen penghindaran risiko juga membantu posisi Dolar.
Arab Saudi memutuskan untuk menurunkan acuan harga minyak bulan Oktober menyusul munculnya sinyal penurunan permintaan dari kawasan Asia.
Revisi naik data Final GDP Jepang kuartal kedua didukung oleh pengeluaran bisnis yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya. Namun, perekonomian Jepang masih berpotensi melambat di kuartal ketiga akibat pandemi.
Data perdagangan China melonjak hingga mematahkan ekspektasi. Padahal, ekonomi China tengah menghadapi ancaman perlambatan akibat penyebaran virus Corona Delta.
Pengeluaran rumah tangga Jepang naik di bawah ekspektasi dan mencerminkan kerapuhan sektor konsumsi akibat penyebaran virus Corona Delta. USD/JPY data-datar saja merespon data tersebut.
Dolar AS berusaha menguat di awal pekan, namun tertahan di level terendah 1 bulan karena aksi jual pasca rilis data ketenagakerjaan yang meredupkan prospek tapering dalam waktu dekat.
Harga minyak masih terkendali setelah OPEC memutuskan untuk mempertahankan kebijakan produksi di tengah ketidakpastian virus Corona Delta.
Pertumbuhan GDP Australia selama kuartal kedua didukung oleh solidnya harga komoditas tambang di pasar internasional dan pemulihan sektor tenaga kerja.
PMI Jasa China ambles ke level terendah sejak Februari 2020 karena merebaknya kekhawatiran terhadap gelombang virus Corona Delta. Sektor manufaktur pun turut mengalami perlambatan.
Badai Tropis Ida telah memaksa terhentinya produksi minyak mentah di kawasan teluk Meksiko. Kabar ini membebani harga minyak pada perdagangan awal pekan.
Retail Sales Jepang membukukan kenaikan lima bulan beruntun. Namun, ancaman virus Corona Delta diperkirakan akan menekan sektor konsumsi Jepang di bulan-bulan mendatang.
Pernyataan Powell terkait jadwal tapering tahun ini telah diantisipasi oleh pasar. Namun, komentar seputar kenaikan suku bunga membuat Dolar AS melemah.
Harga minyak bertahan di level tinggi berkat dukungan permintaan bahan bakar AS yang naik. Selain itu, meredanya kekhawatiran pasar juga menjadi katalis.
Harga minyak menguat signifikan di tengah pelemahan Dolar AS. Namun, reli minyak diperkirakan tidak berlangsung lama karena kekhawatiran pasar terhadap virus Corona Delta.
Menyusul pernyataan dovish Robert Kaplan, investor melancarkan aksi profit taking sehingga reli Dolar AS terpantau melemah jelang Simposium Jackson Hole.
Pencapaian ekspor Jepang di bulan Juli menandai pertumbuhan dua digit selama lima bulan berturut-turut. Namun, perlambatan ekonomi China dan virus Corona Delta memicu kekhawatiran.
Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini