Advertisement

iklan

Profil Penulis : Pandawa

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.

iklan

iklan

Pelaku pasar minyak sedang menanti hasil pertemuan G7. Diperkirakan, meeting tersebut membahas alternatif minyak non-Rusia dan sanksi nuklir Iran.
Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan ekonomi AS cukup tangguh untuk bertahan dalam kondisi suku bunga tinggi. Ia bertekad menurunkan inflasi AS ke kisaran 2 persen.
Harga minyak terlihat rapuh di tengah kekhawatiran pasar terhadap risiko perlambatan ekonomi global. Namun, pengetatan pasokan menahan harga minyak tidak merosot terlalu dalam.
Sentimen konsumen Australia kembali merosot pada bulan Juni, melanjutkan trend suram yang sudah terjadi selama tujuh bulan terakhir. Namun, AUD/USD justru menguat.
Kemunculan kembali kasus COVID di Beijing akhir pekan lalu membuat otoritas terkait melakukan tes massal. Minyak semakin tidak berdaya di tengah antisipasi pasar jelang rapat FOMC.
Di luar dugaan, RBA menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin demi melawan lonjakan inflasi. Prospek rate hike selanjutnya terbilang cerah, namun AUD/USD justru fluktuatif.
Arab Saudi menaikkan harga jual untuk pengiriman bulan Juli. Namun, harga minyak mentah melemah lantaran keputusan OPEC untuk meningkatkan produksi.
Ekonomi Australia tumbuh cukup solid karena permintaan domestik yang kokoh. Namun, berbagai hambatan seperti cuaca buruk membuat akselerasi GDP sedikit teredam.
Harga minyak melonjak di atas 120 per barel setelah China mencabut pembatasan COVID di Shanghai. Selain itu, pasokan minyak diperkirakan semakin ketat atas keputusan Uni Eropa memblokir impor migas Rusia.
Bank Sentral New Zealand menaikkan suku bunga sebesar 50 bps demi meredam lonjakan inflasi. Kondisi ekonomi domestik solid, namun risiko dari luar negeri menjadi sorotan.
Kekhawatiran pasar terhadap outlook perlambatan ekonomi China sempat menekan harga minyak. Namun, harga minyak berbalik menguat karena kabar pemblokiran minyak Rusia oleh Uni Eropa.
Harga minyak sempat terkoreksi menanggapi pernyataan Jerome Powell. Namun saat ini, harga minyak kembali menanjak di tengah masih ketatnya pasokan global.
Pembatasan beberapa kota utama China akibat COVID varian Omicron telah memukul sektor konsumsi yang menyebabkan penjualan ritel merosot tajam pada bulan April.
Kenaikan Inflasi konsumen China dipicu oleh terganggunya pasokan logistik akibat penerapan pembatasan COVID di beberapa kota. Namun, inflasi produsen tidak mencerminkan performa yang sama.
Harga minyak melemah selama dua sesi terakhir karena meningkatnya kekhawatiran atas prospek permintaan. Hal ini sehubungan dengan masalah COVID di China dan potensi kemunduran perekonomian Eropa.
CPI Australia naik berkat kenaikan harga bahan bakar dan biaya perumahan. Merespon kenaikan inflasi konsumen ini, AUD/USD menguat terbatas.
Harga minyak perlahan naik setelah China dikabarkan segera memberikan stimulus kepada perusahaan kecil yang terkena dampak lockdown COVID.
Harga minyak merosot tajam karena outlook suram dari IMF terkait pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, penguatan dolar AS juga menekan harga minyak.
Data GDP China tumbuh melampaui ekspektasi di kuartal pertama 2022. Di sisi lain, laporan retail sales terbaru justru merosot dari lonjakan bulan sebelumnya.
Harga minyak menguat sekitar 5 persen karena kabar pelonggaran lockdown di Shanghai. Selan itu, penurunan kondensat migas Rusia akibat sanksi barat juga menjadi katalis.
CPI China meningkat karena kenaikan harga barang non-makanan. Sementara itu, PPI tetap berada dekat rekor tertinggi meski sedikit melandai.
Harga minyak melemah karena ditekan oleh penguatan Dolar AS dan kabar buruk COVID XE. Namun, prospek pengetatan pasokan minyak masih menopang harga.
Household Spending Jepang merosot dalam basis bulanan, karena s ektor konsumsi mulai terkena dampak inflasi global dan trend upah rill yang stagnan.
Sektor manufaktur dan jasa China kompak merosot hingga zona kontraksi karena dipicu oleh langkah pembatasan yang dilakukan pemerintah di beberapa kota utama.
Rusia dilaporkan masih melancarkan serangan rudal ke Ukraina meski telah mencapai banyak kemajuan dalam perundingan di Turki.