Advertisement

iklan

Profil Penulis : Pandawa

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.

iklan

iklan

Sebagian besar pembuat kebijakan BoJ optimis inflasi Jepang akan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Namun, kebijakan ultra-longgar tetap dipertahankan karena ekonomi rapuh.
Inflasi Australia kembali naik, dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar dan pasar perumahan. Namun, AUD/USD diliputi ketidakpastian jelang pengumuman The Fed.
Harga minyak naik lebih dari 1 persen karena memanasnya tensi geopolitik Eropa. Sejumlah negara Barat mengancam akan menjatuhkan sanksi berat kepada Rusia.
Inflasi inti Jepang bertahan di rekor tertinggi 2 tahun karena kenaikan harga bahan bakar. Sementara itu, USD/JPY turun tajam sehubungan dengan aksi profit taking.
Employment Change Australia naik lebih baik dari ekspektasi, sementara tingkat pengangguran turun drastis. Kondisi ini tak ayal mendorong penguatan AUD/USD.
Indeks kepercayaan konsumen Australia turun di bulan Januari, sebagian besar disebabkan oleh penyebaran varian Omicron yang menekan prospek ekonomi dan kondisi keuangan jangka pendek.
Ekonomi China melambat karena krisis energi yang berdampak luas terhadap perekonomian. Kendati demikian, GDP China kuartal terakhir 2021 masih mengungguli proyeksi ekonom.
Pesanan mesin Jepang naik dua bulan berturut-turut sejalan dengan permintaan luar negeri yang solid. Namun,harga bahan baku dan biaya distribusi masih menjadi hambatan.
Solidnya ekspor China didorong oleh pengiriman barang menuju AS, Eropa, dan Asia Tenggara. Namun, impor China melambat cukup drastis.
Inflasi produsen China terus melandai karena harga bahan baku dan energi yang menurun pada bulan Desember. CPI China juga merosot akibat penurunan harga bahan makanan.
Kenaikan harga bahan baku dan energi kembali menekan sentimen produsen Jepang. Namun, ekonom memperkirakan sentimen akan kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan karena pemintaan global yang lebih kuat.
Harga minyak melemah setelah pasokan minyak Kazakhstan kembali secara bertahap menyusul aksi protes sipil pekan lalu. Selain itu, peningkatan kasus COVID China ikut menekan harga minyak.
Harga minyak menguat setelah OPEC mempertahankan kebijakan produksi. Tekanan saat ini hanya bersifat sementara karena disebabkan oleh profit-taking.
USD/JPY menguat tajam hingga ke level tertinggi 5 tahun berkat menguatnya prospek kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Maret mendatang.
Aktivitas pabrik China berekspansi pada bulan Desember karena didukung oleh meredanya tekanan harga bahan baku. Namun, kontraksi pasar tenaga kerja dan sentimen bisnis yang rapuh masih menyebabkan ketidakpastian.
Meski terus berekspansi dalam 11 bulan terakhir, laju indeks manufaktur Jepang tertekan oleh harga bahan baku yang mahal dan kemacetan rantai pasokan.
Harga minyak membuka tahun baru di dekat level tertinggi multi tahunan. Namun, kekhawatiran terhadap COVID Omicron mendorong ekonom memangkas proyeksi harga minyak tahun ini.
Sektor manufaktur dan jasa China berjuang pulih setelah mengalami perlambatan sepanjang paruh kedua 2021 akibat pembatasan COVID dan krisis energi.
Kenaikan output pabrik Jepang yang lumayan impresif disebabkan oleh lonjakan produksi mobil dan kendaraan bermotor. Akan tetapi, Yen melemah terhadap Dolar AS.
Ribuan jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan di AS akibat kekurangan staf pada liburan Natal. Hal ini mendasari pergerakan harga minyak yang bearish pada awal pekan ini.
Kenaikan penjualan ritel Jepang sebagian besar dipicu oleh peningkatan belanja bahan bakar. Kemunculan varian Omicron memang belum berdampak, tetapi dikhawatirkan membayangi prospek permintaan ke depan.
Kenaikan inflasi Jepang disebabkan oleh lonjakan harga komoditas global, sedangkan inflasi yang tanpa memasukkan ketegori makanan segar dan bahan bakar masih dalam trend negatif.
Dolar AS melemah ke area terendah sepekan karena sentimen risiko yang kembali naik sehubungan dengan laporan positif terkait COVID Omicron.
Paket RUU Biden mendapat tentangan dari senator partai Demokrat sehingga menahan reli Dolar. Selain itu, kekhawatiran terkait Omicron masih menjadi isu.
Pembatasan mulai dilakukan oleh sejumlah negara Eropa menyusul lonjakan kasus COVID Omicron. Tak ayal, prospek permintaan pun meredup.
Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini