Advertisement

iklan

Terra Runtuh: Ini Kronologi dan Pelajaran Untuk Trader

Penulis

+ -

Runtuhnya kejayaan Terra Luna dalam waktu yang singkat membuat banyak orang bertanya-tanya. Apa penyebab utamanya?

iklan

iklan

Tidak ada yang bisa menebak perjalanan naik turunnya pasar kripto. Mungkin kemarin Anda bisa melipatgandakan modal hingga untung besar, tapi tidak tahu besok atau lusa.

Apalagi di tengah kondisi bearish pasar kripto saat ini, Anda harus menjadi lebih hati-hati dalam melakukan investasi. Meski diversifikasi portofolio aset kripto Anda terdiri dari koin dan token terbaik, itu tetaplah bukan jaminan. Hal tersebut sudah terbukti dengan insiden keruntuhan Terra Luna.

 

Apa Itu Terra Luna?

Bagi Anda yang sudah berkecimpung dalam pasar kripto sejak awal tahun ini, tentu Terra Luna bukanlah nama yang asing. Sebagai salah satu proyek blockchain dengan native coin yang sempat masuk top 10, tentu seharusnya Terra Luna merupakan andalan untuk investasi aset kripto.

Dengan sebuah blockchain yang dibangun untuk menciptakan pembayaran digital terdesentralisasi menggunakan algorithmic stablecoin, Terra juga sempat digadang-gadang bisa stabil di tengah fluktuatifnya mata uang kripto lain.

Terra Luna

Dengan bantuan dari Daniel Shin, Do Kwon membuat Terra pada tahun 2018 di Terraform Labs, Korea Selatan. Blockchain ini mempunyai keunggulan seperti kemampuan smart contract hingga bisa mendukung pembangunan ekosistem D-Apps.

Selain itu, Terra juga menyiapkan aset dengan stabilitas uang fiat yang bersifat desentralisasi serta memiliki keamanan jaringan blockchain.

TerraUSD atau $UST merupakan algorithmic stablecoin yang mendukung Terra. $LUNA yang sempat menjadi salah satu mata uang kripto terbaik, merupakan native coin dari jaringan ini.

Dengan kapitalisasi pasar sebesar $30 miliar pada tahun itu, cryptocurrency ini pernah diprediksi akan semakin bersinar di tahun 2022. Ya, $LUNA memang sempat mencapai ATH (All Time High), tak lama sebelum akhirnya anjlok lebih dari 90%.

 

Bagaimana Sistem Kerja $UST dan $LUNA?

Bila $UST merupakan stablecoin, bagaimana cara Terra menjaga harga $UST tetap stabil terhadap USD? Di sini letak peran $LUNA sebagai penjaga harga $UST. Pengguna Terra dapat menukarkan $LUNA menjadi $UST, di mana seharusnya sistem tukar tersebut menguntungkan $UST dan $LUNA.

Secara teoritis, jumlah suplai $LUNA akan berkurang seiring meningkatnya penggunaan $UST. Hal tersebut dapat membuat $LUNA semakin langka dan harga melambung tinggi.

Algoritma Terra menyebabkan suplai $UST dan $LUNA mengalami kontraksi dan ekspansi, tergantung dari jumlah permintaan kedua koin, dalam artian:

  • Ekspansi adalah saat jumlah permintaan terlalu tinggi namun suplai terbatas, menyebabkan harga $UST lebih tinggi dibanding USD. Protokol akan memberikan insentif pada pengguna yang burn $LUNA agar suplai $UST bertambah.
  • Sedangkan kontraksi merupakan kondisi di mana harga $UST lebih rendah daripada USD, karena suplai terlalu banyak dibandingkan permintaannya yang sedikit. Pada saat seperti ini, protokol akan mendorong pengguna untuk burn $UST lalu mencetak $LUNA baru.

Meski mekanisme percetakan tersebut unik dan menarik seperti arbitrase, namun tetap ada risiko besar dalam penggunaan $LUNA sebagai aset jaminan $UST. Sebab secara logika, sifat nilai tukar $LUNA itu jelas sama seperti Bitcoin ataupun altcoin terhadap dolar, yaitu fluktuatif.

Nah, apa jadinya bila sebuah stablecoin yang memang seharusnya stabil, ternyata malah dijamin dengan aset berfluktuatif? Terbukti bahwa mekanisme ini tidak bisa menahan keruntuhan Terra Luna pada saat pasar memasuki fase bearish seperti sekarang. Inilah yang membedakan $UST dengan stablecoin lainnya yang dijamin langsung menggunakan USD.

 

Runtutan Keruntuhan Terra Luna

Kisah keruntuhan Terra Luna bermula dari kemerosotan $UST ke level 0.98 USD pada tanggal 7 dan 8 Mei 2022. Berdasarkan hal tersebut, maka algoritma Terra secara otomatis akan mencetak $LUNA dengan harapan untuk menstabilkan harga $UST. Eksekusi algoritma tersebut membuat harga $LUNA mengalami penurunan hingga 20% atau 61 USD.

Melihat kejadian tersebut, Luna Foundation Guard atau LFG langsung bertindak untuk melindungi harga aset. Dengan segera mereka mencairkan dana cadangan sebesar 1.5 miliar USD untuk menstabilkan harga $UST. Namun karena pasar telah terlalu panik melihat kejatuhan berbagai mata uang kripto, maka rencana tersebut gagal total.

Keruntuhan Terra Luna dan Do Kwon

Pada saat kejadian tersebut, total deposit di stablecoin $UST merosot dari 14.2 miliar $UST hingga mencapai 11.7 miliar UST hanya dalam waktu dua hari.

Dan seperti dugaan, ketika harga $UST merosot jauh, protokol percetakan Terra tidak menolong tapi justru semakin menjerumuskan, dengan menyebabkan $LUNA menjadi oversupply dan akhirya jadi tak berharga lagi seperti sekarang.

Do Kwon selaku CEO secara resmi menyatakan rencana untuk memperbaiki ekosistem Terra dan $UST. Namun rupanya, rencana tersebut tidak diterima baik oleh para anggota komunitas Terra. Setelah itu, Do Kwon merilis Terra 2.0 melalui hard fork dengan tanpa adanya $UST lagi. Terra Builders Alliance secara resmi membuat blockchain baru tanpa algorithic stablecoin.

Baca Juga: Penjelasan Lengkap Tentang Hard Fork Bitcoin

 

Pembelajaran Yang Didapat Dari Keruntuhan Terra Luna

Peristiwa sejenis seperti keruntuhan Terra Luna tentu masih dapat terjadi lagi di masa depan. Nah, agar Anda dapat lebih berhati-hati dalam berinvestasi di dunia kripto. Berikut di bawah ini adalah beberapa pelajaran yang bisa Anda pelajari.

 

1. Stablecoin Harus Di-backup Dengan Aset Stabil

Seperti pertanyaan sebelumnya di atas, bagaimana mungkin aset tidak stabil menjadi backup untuk sesuatu yang diharapkan stabil seperti stablecoin. $UST seharusnya bernilai sama dengan USD, namun malah menggunakan mata uang kripto lainnya yang bernilai fluktuatif terhadap USD.

Dari sini seharusnya logika bermain, bahwa stabilitas suatu aset hanya bisa dijamin oleh aset yang sudah pasti stabil. Tak heran bila di saat pasar kripto sedang memasuki fase bearish, maka keruntuhan Terra Luna ditandai oleh kedua koinnya yang paling hancur.

 

2. Beli Berdasarkan Value

Jangan membeli aset hanya karena viral saja. Sesuatu yang viral belum tentu bisa menjadi aset investasi terbaik. Lakukanlah penelitian mendalam terlebih dahulu, analisa fundamental pada proyek kripto sangat penting ketika hendak berinvestasi. Faktor utama keruntuhan Terra Luna jelas disebabkan oleh mekanisme yang cacat logika.

 

3. Terra Luna Bukan Kripto Yang Terdesentralisasi Sepenuhnya

Tim pembuat dan pengembang Terra mengklaim telah membuat "decentralized money" untuk ekonomi yang sepenuhnya terdesentralisasi. Namun pada saat kejatuhannya lalu, kita justru bisa melihat bahwa kedua koin tersebut hanya fokus dan dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu.

Lihat saja semua hal yang berkaitan dengan penyelamatan Terra Luna selalu ditentukan oleh Do Kwon dan 6 member penting di LFG, tanpa ada campur tangan para pengguna lainnya. Hal tersebut jelas tidak sesuai dengan konsep desentralisasi yang sudah dikenal luas oleh komunitas kripto, khususnya Bitcoin.

Sebab tidak seperti Bitcoin, di mana seluruh upgrade hanya akan dilaksanakan dan dilakukan oleh tim pengembangnya saat hasil voting miner BTC mencapai kesepakatan 90%, upgrade Bitcoin juga tidak dipaksakan bagi miner yang tidak sepakat.

Baca Juga: Memahami Desentralisasi Dan Sentralisasi Di Ruang Lingkup Kripto

 

4. Dampak Pada Industri Kripto

Kemerosotan besar Terra Luna tentu membuat banyak pihak rugi. Pasalnya, pergerakan harga koin dengan kapitalisasi besar pasti akan selalu berimbas pada aset kripto lain, entah itu bullish ataupun bearish. Bahkan aset sebesar Bitcoin pun tak akan bisa lolos dari dampak keruntuhan $UST dan $LUNA.

Hal itu disinyalir akibat LFG secara mengejutkan menjual sekitar 80 ribu BTC pada saat puncak tragedi, dan akhirnya harga Bitcoin terjun ke angka 27 ribu USD, serta membawa aset kripto lainnya ikut dalam aksi penerjunan.

Hasil akhir dari aksi penyelamatan diri Do Kwon dan LFG, tentu membuat pengguna jaringan Terra merugi miliaran dolar. CZ, bos Binance juga mengaku kehilangan 23 triliun Rupiah gara-gara kejadian tersebut.

Maka, agar kejadian ini tak terulangi lagi, selain para trader dan investor harus memperhatikan asetnya, para pengembang kripto juga harus mulai mengevaluasi tujuan dan sistem mereka lagi.

Baca Juga: Kisah Rugi Bitcoin Akibat Kejatuhan Harga Di Akhir 2017

 

Kesimpulan

Konsep trading ataupun investasi di pasar kripto memanglah "high risk, high return". Bukan hanya karena belum teregulasi belum cukup kuat, namun manipulasi pasar, rug pull, FOMO, FUD, dan peretasan merupakan risiko yang harus dihadapi bila menginginkan keuntungan setinggi kripto.

Keruntuhan Terra Luna sudah pasti akan menjadi kenangan buruk bagi sebagian besar penggemar kripto. Selain karena sistem protokolnya yang cacat, Do Kwon dan gerombolannya juga telah "menipu" dengan menawarkan sistem keuangan terdesentralisasi semu.

 

Butuh memantau harga kripto terkini? CoinMarketCap adalah referensi utama dalam memantau harga kripto. Namun, untuk menghindari bahaya menggunakan 1 situs sebagai acuan, sebaiknya gunakan juga 7 Situs Pemantau Harga Kripto Terbaik Selain CoinMarketCap berikut ini.

297856
Penulis

Lulusan Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Menggeluti dunia penulisan sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa tahun 2009. Mulai tertarik dengan dunia forex dan kripto, setelah lulus kuliah hingga sekarang sembari trading.