Advertisement

iklan

Mengapa Banyak Bank Sentral Tidak Suka Nilai Tukar Kuat?

Penulis

+ -

Belakangan ini, cukup sering terdengar komentar dari pejabat bank sentral di negara maju bahwa mata uang tertentu "terlalu kuat" atau "lebih baik melemah". Di sisi lain, bank sentral di negara berkembang seperti Indonesia dan fragile five lainnya berjuang dengan berbagai cara untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar di "level kuat" tertentu. Mengapa negara maju malah cenderung kurang menghargai nilai tukar kuat?

iklan

iklan

Belakangan ini, cukup sering terdengar komentar dari pejabat bank sentral di negara maju bahwa mata uang tertentu "terlalu kuat" atau "lebih baik melemah". Di sisi lain, bank sentral di negara berkembang seperti Indonesia dan fragile five lainnya berjuang dengan berbagai cara untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar di "level kuat" tertentu. Mengapa negara maju malah cenderung kurang menghargai nilai tukar kuat?
nilai tukar mata uang - illustrasi Pelajaran Dari Perekonomian Jepang
Sejarah perekonomian Jepang telah memberikan banyak pelajaran bagi pengamat kebijakan moneter modern. Yang pertama, pelambatan ekonomi dimana inflasi dan gairah bisnis domestik terus menurun merupakan sinyal bahwa suatu wilayah memasuki masa resesi. Kedua, nilai tukar yang terlalu kuat akan melukai ekspor dan dalam jangka panjang dapat menyeret produksi nasional, bahkan berujung pada pertumbuhan ekonomi negatif. Selama hampir satu dekade, Jepang mengabaikan saja penurunan statistik inflasi dan apresiasi mata uanganya, hingga akhirnya baru ketahuan setelah penyakitnya masuk stadium akhir, perekonomiannya telanjur hanyut dalam periode kemunduran. PM Shinzo Abe dengan Abenomics berusaha keras membalikkan situasi, tetapi jelas bahwa ini bukan hal yang mudah. Satu tahun lebih telah berlalu sejak Abenomics dideklarasikan, tetapi perekonomian Jepang belum menunjukkan perbaikan berarti.

Kedua pelajaran itu seakan telah menjadi momok baik bagi partisipan di pasar finansial. Ambil contoh Uni Eropa yang tak peduli berapa kalipun pejabat Bank Sentralnya mengklaim "tidak ada deflasi", tetapi pelaku pasar terus khawatir dan ketakutan akan deflasi, semata karena data-data ekonomi tidak menunjukkan penguatan signifikan. Di kalangan bank-bank sentral sendiri, pengalaman Jepang memiliki hikmah penting, yaitu "jangan biarkan nilai tukar kelewat kuat dibanding mata uang lain".

Sepanjang tahun 2013, Gubernur Bank Sentral Australia, Glenn Stevens, berulang kali mengeluarkan statemen negatif yang secara efektif memelorotkan nilai AUD. Ia bahkan sengaja memangkas suku bunga acuan berulang kali demi tujuan itu. Ini bisa dipahami sebagai upaya counter-strike melawan ancaman berkurangnya demand akan barang-barang dari Australia gara-gara prediksi perlambatan perekonomian Cina. Selama nilai tukar AUD rendah, Australia bisa mencari tempat pemasaran baru, tetapi bila nilai tukarnya dianggap terlalu tinggi, maka habislah sudah. Harga produk barang dan jasa mereka bukan cuma kehilangan pasar, tapi juga kehilangan level harga yang membuatnya mampu bersaing dengan buatan negara lain.

Gara-Gara Online Trading?
Baru-baru ini, menyusul keputusan Bank Sentral Inggris (BoE) untuk mempertahankan suku bunganya kemarin, deputi gubernur BoE Charlie Bean mengatakan bahwa sterling sudah menguat 10% dalam setahun terakhir, dan penguatan lebih lanjut bisa jadi masalah bagi industri ekspor Inggris. Nilai tukar GBP yang kelewat kuat akan membuat harga barang buatan Inggris jadi lebih mahal dan sulit bersaing dalam perdagangan internasional. Akibatnya, ekspor akan tertekan dan menghambat upaya pemulihan perekonomian karena produksi Inggris tidak laku di pasar global. Karenanya, lanjut Bean, nilai tukar GBP yang kuat akan membuat BoE menunda kenaikan tingkat suku bunga.

Tentu saja ada pertimbangan lain kenapa BoE enggan menaikkan tingkat bunga-nya, misalnya bahwa kenaikan bunga dikhawatirkan memperparah pengangguran. Tetapi fenomena ini jelas mengindikasikan adanya perkembangan baru dalam analisis fundamental ekonomi kini. Efek menguatnya suatu mata uang segera setelah tingkat suku bunga dinaikkan telah menjadi berlipat ganda sejak online trading forex semakin banyak digunakan di dunia. Akibatnya, pengambil kebijakan juga jadi lebih hati-hati. Jika dulu naik/turun suku bunga semata dihubungkan dengan kredit domestik, ketenagakerjaan, dan upaya menarik investasi masuk ke dalam negeri, maka kini kuat/lemahnya nilai tukar juga menjadi salah satu pertimbangan utama.

Bagaimana kita bisa mendeteksi kuat/lemahnya nilai tukar suatu mata uang major? Menurut kami, pada umumnya ada dua cara, yaitu dengan membandingkannya dengan USD, atau dengan indeks mata uang seperti yang disediakan oleh lembaga seperti Bloomberg dan Dow Jones FXCM Dollar Index. Indeks mata uang diperoleh dengan membandingkan nilai tukar suatu mata uang dengan sebasket mata uang pilihan lainnya. Indeks tersebut bisa digunakan dalam analisis fundamental maupun teknikal dengan dukungan indikator lain. Indeks yang makin kuat menandakan mata uang tersebut mengalami apresiasi, sedangkan tren menurun berarti tren bearish. Indeks yang sudah menyentuh titik resisten baru, berarti ada kemungkinan reversal. Indeks yang beberapa kali menyentuh titik rendah, juga biasanya mengindikasikan kesempatan reversal.   


165474

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

Nganuku
wow bagus artikrlnya
Suendah
sangat membantu sekali dalam kegiatan trading saya

Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini